Senin, 25 Januari 2016

ISU ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN

ISU ARSITEKTUR DAN LINGKUNGAN
Manusia mencemari air dengan pembuangan sampah skala besar, bunga, abu dan limbah rumah tangga lainnya.
Di beberapa daerah pedesaan kita masih dapat menemukan orang-orang mandi dan memasak di air yang sama, sehingga sangat kotor. Hujan asam lebih menambah polusi air di dalam air. Selain itu, polusi termal dan penipisan oksigen terlarut memperburuk kondisi yang sudah memburuk dari aliran air. Polusi air juga dapat secara tidak langsung terjadi sebagai sebuah cabang dari polusi tanah – melalui aliran permukaan dan pencucian air tanah. Polusi suara, polusi tanah dan polusi cahaya juga  merusak lingkungan pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Polusi suara termasuk kebisingan pesawat, suara mobil, bus, dan truk, tanduk kendaraan, pengeras suara, dan kebisingan industri, serta intensitas tinggi efek sonar yang sangat berbahaya bagi lingkungan.
Polusi suara maksimum terjadi karena salah satu penemuan terbaik ilmu pengetahuan modern – kendaraan bermotor,  sekitar sembilan puluh persen dari semua suara yang tidak diinginkan di seluruh dunia.
Polusi tanah, yang juga dapat disebut pencemaran tanah, adalah hasil dari hujan asam, air tercemar, pupuk dll, yang mengarah ke tanaman. Kontaminasi tanah terjadi ketika bahan kimia yang dilepaskan oleh tumpahan atau kebocoran tangki penyimpanan bawah tanah yang melepaskan kontaminan berat ke dalam tanah. Ini mungkin termasuk hidrokarbon, logam berat, MTBE, herbisida, pestisida dan hidrokarbon terklorinasi. 
Isu lingkungan merupakan topik yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan. Adanya peningkatan produk manusia menjadi penyebab timbulnya perubahan iklim global yang signifikan (yang sering kita kenal dengan sebutan global warming) dan hal ini menjadi bahan pemikiran bersama di seluruh negara di dunia dalam menjawab solusi penanganan dampak globalisasi tersebut. Konsentrasi Gas Rumah Kaca (GRK) di atmosfer meningkat dan menyebabkan serangkaian perubahan yang berpotensi merusak iklim global karena meningkatnya suhu umumnya. Dunia arsitektur merupakan salah satu bidang yang  tak luput dari isu-isu lingkungan yang juga diyakini dapat menjawab permasalahan dampak global warming. Untuk menanggapi isu lingkungan tersebut, terciptalah sebuah konsep yang kita kenal sebagai konsep Green Architecture.  
Green Architecture itu sendiri adalah konsep arsitektur yang berusaha meminimalkan pengaruh buruk terhadap lingkungan alam maupun manusia dan menghasilkan tempat hidup yang lebih baik dan lebih sehat, yang dilakukan dengan cara memanfaatkan sumber energi dan sumber daya alam secara efisien dan optimal.Hal ini telah dilakukan dengan pemanfaatan kondisi lingkungan dengan bukaan yang optimal. Saat ini jarang ditemukan contoh bangunan yang menggunakan pendekatan green architecture. Untuk itu mungkin perlu melihat balik kepada arsitektur vernakular yang banyak mendukung pendekatan green architecture. 

UPAYA-UPAYA MENGATASI MASALAH LINGKUNGAN
Usaha Mengatasi berbagai Masalah Lingkungan Hidup Pada umumnya permasalahan yang terjadi dapat diatasi dengan cara-cara sebagai berikut:
1.Menerapkan penggunaan teknologi yang ramah lingkungan pada pengelolaan sumber daya alam baik yang dapat maupun yang tidak dapat diperbaharui dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya.
2.Untuk menghindari terjadinya pencemaran lingkungan dan kerusakan sumber daya alam maka diperlukan penegakan hokum secara adil dan konsisten.
3.Memberikan kewenangan dan tanggung jawab secara bertahap terhadap pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup.
4.Pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup secara bertahap dapat dilakukan dengan cara membudayakan masyarakat dan kekuatan ekonomi.
5.Untuk mengetahui keberhasilan dari pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup dengan penggunaan indicator harus diterapkan secara efektif.

(Sumber : dosen.narotama.ac.id/wp.../Green-Architecture.ppt)



Minggu, 24 Januari 2016

ARSITEKTUR BIOLOGIS

Dalam arsitektur dikenal istilah arsitektur biologis, yaitu pengetahuan tentang hubungan integral antara manusia dan lingkungan hidup. Istilah arsitektur biologis diperkenalkan oleh beberapa ahli bangunan, antara lain Prof. Mag.arch, Peter Schmid, Rudolf Doernach dan Ir. Heinz Frick. Sebenarnya, arsitektur biologis bukan merupakan hal yang baru, sebab sejak ribuan tahun yang lalu nenek moyang kita telah menerapkan konsep dasar dari arsitektur biologis ini, yaitu dengan membangun rumah adat (tradisional) menggunakan bahan-bahan yang diambil dari alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan mempertimbangkan rancang bagun yang dapat tahan dengan segala macam ancaman alam, seperti hewan buas dan bencana seperti banjir, longsor, gempa, dan lain-lain. Rumah adat yang berbentuk rumah panggung adalah contoh dari arsitektur biologis masyarakat Indonesia zaman dahulu. Pada peristiwa gempa di Padang tahun lalu, rumah adat ini terbukti lebih kokoh dibanding dengan rumah atau bangunan lain, karena bobotnya yang ringan, terbuat dari bambu dan kayu.

Di era modern seperti sekarang, menggunakan arsitektur biologis bukan tidak mungkin, apalagi di saat kondisi bumi mengalami perubahan drastis yang disebabkan pemanasan global. Namun, tentu kita tidak harus membangun bangunan yang sama persis dengan rumah adat, karena kondisi lingkungan saat ini tidak lagi memungkinkan kita untuk membuatnya. Yang mungkin kita lakukan adalah dengan mencoba membuat rancang bangun rumah yang efisien akan sumber daya (seperti listrik) tanpa mengurangi kenyaman bagi penghuni rumah itu sendiri. Selain itu, pentingnya pendekatan ekologis seperti ramah lingkungan, ikut menjaga kelangsungan ekosistem, menggunakan energi yang efisien, memanfaatan sumber daya alam yang tidak dapat diperbarui secara efisien, menekanan penggunaan sumber daya alam yang dapat diperbarui dengan daur ulang dalam membangun lingkungan akan turut meningkatkan kualitas lingkungan hidup. Hal ini menjadi konsep arsitektur biologis saat ini menjadi lebih kontemporer.

Para ahli bangunan dan desainer interior telah banyak memberikan saran dalam pembangunan rumah ramah lingkungan, misalnya pendapat Yeang, seorang ahli bangunan Cina yang menerapkan integrasi kondisi ekologi, yang dilalakukan dengan tiga cara, yaitu pertama, integrasi fisik dengan karakter fisik ekologi setempat, meliputi keadaan tanah, topografi, air tanah, vegetasi, iklim dan sebagainya. Kedua, integrasi sistim-sistim dengan proses alam, meliputi: cara penggunaan air, pengolahan dan pembuangan limbah cair, sistimpembuangan dari bangunan dan pelepasan panas dari bangunan dan sebagainya. Ketiga, integrasi penggunaan sumber daya yang mencakup penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan (Yeang, 2006).

Dewasa ini, mulai banyak rimah-rumah yang membuat panel tenaga surya untuk membantu memnuhi kebutuhan listrik di rumah, jadi tidak hanya bergantung pada sumber daya listrik pemerintah yang menggunakan bahan bakar yang tidak terbaharui. Selain itu, penanaman taman di atap (roof garden) dan membuat lubang resapan di halamn rumah juga membantu dalam mengurangi risiko polutan yang terserap dan bencana banjir. Hal yang juga penting untuk dilakukan adalah menggunakan barang-barang kayu (meubel) yang telah bersertifikat, sebagai tanda material pembuat meubel tersebut adalah bukan dari hasil pembalakan liar. Kita pun perlu meningkatkan kesaran masyarakat akan hal ini, sebab di negara-negara maju seperti Amerika, kesadaran untuk memakai bahan bangunan dan perabot yang legal telah digalakkan secara optimal.
Tujuan perancangan arsitektur melalui pendekatan arsitektur adalah upaya ikut menjaga keselarasan bangunan rancangan manusia dengan alam untuk jangka waktu yang panjang. Keselarasan ini tercapai melalui kaitan dan kesatuan antara kondisi alam, waktu, ruang dan kegiatan manusia yang menuntut perkembangan teknologi yang mempertimbangkan nilai-nilai ekologi, dan merupakan suatu upaya yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas lingkungan hidup.


Referensi
C., Wanda Widigdo dan I Ketut Canadarma. 2008. Pendekatan Ekologi pada Rancangan Arsitektur, sebagai Upaya Mengurangi Pemanasan Global. Makalah PDF diunduh dari http://fportfolio.petra.ac.id/user_files/82008/TEK%201%20Pendekatan%20ekologi%20wanda%20UKP.pdf

http://hendriologi.blogspot.co.id/2010/11/arsitektur-biologis-kontemporer.html

ARSITEKTUR BIOKLIMATIK



Arsitektur bioklimatik adalah suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan hubungan antara bentuk arsitektur dengan lingkungannya dalam kaitanyan iklim daerah tersebut. Pada akhirnya bentuk arsitektur yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh budaya setempat, dan hal ini akan berpengaruh pada ekspresi arsitektur yang akan ditampilakan dari suatu bangunan, selain itu pendekatan bioklimtaik akan mengurangi ketergantungan karya arsitektur terhadap sumber – sumber energi yang tidak dapat dipengaruhi.

Perkembangan arsitektur bioklimatik

Perkembangan Arsitektur Bioklimatik berawal dari 1960-an. Arsitektur Bioklimatik merupakan arsitektur modern yang dipengaruhi oleh iklim. Arsitektur bioklimatik merupakan pencermian kembali arsitektur Frank Loyd Wright yang terkenal dengan arsitektur yang berhubungan dengan alam dan lingkungan dengan prinsip utamanya bahwa didalam seni membangun tidak hanya efisiensinya saja yang dipentingkan tetapi juga ketenangannya, keselarasan, kebijaksanaan, kekuatan bangunan dan kegiatan yang sesuai dengan bangunannya, “Oscar Niemeyer dengan falsafah arsitekturnya yaitu penyesuaian terhadap keadaan alam dan lingkungan, penguasaan secara fungsional, dan kematangan dalam pengolahan secara pemilihan bentuk, bahan dan arsitektur”.
Akhirnya dari Frank Wright dan Oscar Niemeyer lahirlah arsitek lain seperti Victor Olgay pada tahun 1963 mulai memperkenalkan arsitektur bioklimatik. Setalah tahun 1990-an Kenneth Yeang mulai menerapkan arsitektur bioklimatik pada bangunan tinggi bioklimatik yang memenangkan penghargaan Aga Khan Award tahun 1966 dan Award pada tahun 1966

Prinsip Desain Bioklimatik Menurut Yeang (Bioclimatic Skyscrapers)

1. Penempatan Core Menurut Yeang, 
Posisi service core sangat penting dalam merancang bangunan tingkat tinggi. Service core bukan hanya sebagai bagian struktur, juga mempenagruhi kenyamanan ternal.

Posisi core dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk, yaitu :
  • 1.    Core pusat
  • 2.    Core ganda 
  • 3 .   Core tunggal terletak pada sisi bangunan.


2. Menetukan Orientasi
Bangunan tingkat tinggi mendapatkan penyinaran matahari secara penuh dan radiasi panas. Orientasi bangunan sangat penting untuk menciptakan konservasi energi. Secara umum, susunan bangunan dengan bukaan menghadap utara dan selatan memberikan keuntungan dalam mengurangi insulasi panas.Orientasi bangunan yang terbaik adalah meletakkan luas permukaan bangunan terkecil menghadap timur – barat memberikan dinding eksternal pada luar ruangan atau pada emperan terbuka. Kemudian untuk daerah tropis peletakan core lebih disenangi pada poros timur-barat. Hal ini dimaksudkan daerah buffer dan dapat menghemat AC dalam bangunan.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjlHOcd_LYgJjXEkoa-3x4dhdUngYvCE45-WmsY4ngVw2mVuimcXmlxWOQfQB3j3PaBmTf75k5EIECQiG1Oe6wUkPyk6oPueCj_UdXD-K75t3SHCVNXRUaM5TUxIdvO2waU57ooXwL9Drmg/s200/New+Picture+%283%29.png

3. Penempatan Bukaan Jendela
Bukaan jendela harus sebaiknya menghadap utara dan selatan sangat penting untuk mendapatkan orientasi pandangan. Jika memperhatikan alasan easthetic, curtain wall bisa digunakan pada fasad bangunanyang tidak menghadap matahari. Pada daerah iklim sejuk, ruang transisional bisa menggunakan kaca pada bagian fasad yang lain maka teras juga berfungsi sebagai ‘ruang sinar matahari’, berkumpulnya panas matahari, sperti rumah kaca. Penempatan bukaan jendela pada bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 13 berikut ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjRuVMndJyCMQ05Y0917GeAzaeNz-Gk8BnmnFdGq7eFGIMCZ7D10TI-hXaPL81y0M3HuKEYIcNoYZMwQa5AeSG96eo7kbfg3qdfd32fMP5ly-VW3aV_Iw-QzRVpkbb1_0sonGUb7iZOX5Ho/s200/New+Picture+%284%29.png

Menggunakan kaca jendela yang sejajar dengan dinding luar dengan menggunakan kaca dengan sistem Metrical Bioclimatic Window (MBW). MBW didesain sebagai sistem elemen dengan fungsi yang dikhususkan untuk ventilasi, perlindungan tata surya, penerangan alami, area visualisasi, dan kebebasan pribadi serta sistem luar yang aktif.
Sistem MBW disadur dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sistem ini bermaksud mengatur kondisi ternal ruangan dengan menggunakan maksud bioklimatik teknik, yaitu :
· Penurunan perolehan panas oleh radiasi surya.
· Control perolehan panas oleh konveksi dan penggunaan ventilasi silang ataupun dengan pemilihan cerobong asap.
Dengan penggunaan teknik diatas, maka pencahayaan lebih maksimal dan udara pada malam hari dapat menjadi lebih sejuk.

4. Penggunaan Balkon
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEj3CSdgXyr_dWz8U_UpaqXN6wuxzyXTXSxY6eqMrLro_LhsZnox-ufAGq6GSPpeg2Z3fhjR47aIVVrrXpYG3-t0d36JzWoOkIMHJD_S8jOFDO0A9jpExWm2BgjdqtC89_ZeBTLlqHcfFGCo/s200/New+Picture+%285%29.png

Menempatkan balkon akan membuat area tersebut menjadi bersih dari panel – panel sehingga mengurangi sisi panas yang menggunakan panas. Karena adanya teras – teras yang lebar akan mudah membuat taman dan menanam tanaman yang dapat dijadikan pembayang sinar yang alami, dan sebagai daerah fleksibel akan mudah untuk menambah fasilitas – fasilitas yang akan tercipta dimasa yang akan datang.

5. Membuat ruang Transisional
Menurut Yeang, ruang transisional dapat diletakkan ditengah dan sekeliling sisi bangunan sebagai ruang udara dan atrium. Ruang ini dapat menjadi ruang perantaran antara ruang dalam dan ruang luar bangunan. Ruang ini bisa menjadi koridor luar seperti rumah – rumah toko tua awal abad sembilan belas di daerah tropis. Membuat ruang transisional pada fasad bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 15 berikut ini.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgxAWVVIAmnD2CsMaGP4rG8TKtcMPcwi4CeaUKqCXSwGTLF42eb1NkVrbBzOXeFPkguHwmYJs7n4cixFMumf3V0XyynlVafXV12aMTk5RgWXU8A34BP-4Ch_XyKAN87sMelZFNM3ACpfGsM/s200/New+Picture.png


MenurutYeang, penempatan teras pada bagian dengan tingkat panas yang tinggi dapat mengurangi penggunaan panel – panel anti panas. Hal ini dapat memberikan akses ke teras yang dapat juga digunakan sebagai area evakuasi jika terjadi bencana seperti kebakaran. Penggunaan balkon pada bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 14 berikut ini.Atrium sebaiknya tertutup, tetapi diletakkan diantara ruangan. Puncak bangunan sebaiknya dilindungi oleh sirip – sirip atap yang mendorong angin masuk kedalam bangunan. Hal ini juga bisa di desain sebagai fungsi Wind scoopsuntuk mengendalikan pengudaraan alami yang masuk kedalam bagian gedung.

6. Desain Pada Dinding
Penggunaan mebran yang menghubungkan bangunan dengan lingkungan dapat dijadikan sebagai kulit pelindung. Pada iklim sejuk dinding luar harus dapat menahan dinginnya musim dingin dan panasnya musim panas. Pada kasus ini, dinding luar harus seperti pelindung insulasi yang bagus tetapi harus dapat dibuka pada musim kemarau. Pada daerah tropis dinding luar harus bisa digerakkan yang mengendalikan dan cross ventilation untuk kenyamanan dalam bangunan. Desain dinding pada bangunan bioklimatik.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjMuH8m7ECQ4QvlM3gkeX5la0vdRzakumje51XP-huFpgj3luEb9cCCB-17HvhYZJ-IOgr3psjfKzvfCbH9P5fjd73EHURnC4NmHmEg02oBnfYnxPIubdeYGWCD8XHjFZOl3oMomqr523t3/s200/New+Picture.png

7. Hubungan Terhadap Landscape
Menurut Yeang, lantai dasar bangunan tropis seharusnya lebih terbuka keluar dan menggunakan ventilasi yang alami karena hubungan lantai dasar dengan jalan juga penting. Fungsi atrium dalam ruangan pada lantai dasar dapat mengurangi tinggkat kepadatan jalan. Tumbuhan dan lanskap digunakan tidak hanya untuk kepentingan ekologis dan eastetik semata, tetapi juga membuat bangunan menjadi lebih sejuk. Hubungan terhadap landscape dapat dilihat pada gambar 17 berikut ini.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgFbhyaq6rXd-s0Cf8SQkJuE4UZE-hon6mk9Xx0WiffNAtuC9W8ApsXzRPGIB0gyCDorQuk5Yhg4NxuszuqaHA1NPf8lAXlQkK_TLEHEHBtLjvngWee4vvLg8T5yfxjxR3a0IaE8ByuOdX_/s200/New+Picture.png

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEik8AbF-AtxqOl0wn7VSUjpjKhWY93JOJDdvMXfTC5_APJSuczWfU3TOPZc7E7iiIFpeWzFAYkpBRukL5OGbaiw_Z5XCKvtuHwklS6ur-o6_QkJLEMwy1pVtTXEVfCA0ZxewWUTVl7qjQ8j/s200/New+Picture+%281%29.png

Mengintegrasikan antara elemen boitik tanaman dengan elemen boitik, yaitu : bangunan. Hal ini dapat memberikan efek dingin pada bangunan dan membantu proses penyerapan O2 dan pelepasan CO2.

8. Menggunakan Alat Pembayang Pasif
Menurut Yeang, pembayang sinar matahari adalah esensi pembiasan sinar matahari pada dinding yang menghadap matahri secara langsung (pada daerah tropis berada disisi timur dan barat) sedangkan croos ventilationseharusnya digunakan (bahkan diruang ber-AC) meningkatkan udara segar dan mengalirkan udara panas keluar. Penggunaan alat pembayang pasif dapat dilihat pada gambar 18 berikut ini

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgvwGuO0WfJPNbDUv3QFGc1yV-cqz-a-42MooBZUEemZgryYchQ9PUcAQ6NhxUdKNXfkzKPSbcgJvtzyHwZZL_oDQu1ot82sPLCTn9v2bd1dWDzF1wrDaRlkod0dBYOUcy6DykRFz7kTGNf/s200/New+Picture.png

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiIQ8-PGAQI2mRulhkUeLDgAf_3eeSRoGGROeOwJYQN7mzU0sedhZuXccZS67gs_LXW9vN9qB5zFqixKly2bzyza1A2dL2hB7gcHMC7e8JTy0Lp99B6OVQp9RGGb8M9YdkiJ8Fh6-pkLeDM/s200/New+Picture+%281%29.png

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjJsxSINeScoiLzWb2ybnWBv2L8Co8lqxL_Y4Ex6nup_N4GdWsWfgRaSB3-h829PBJxObhrYZtjLrENMeDIE9uDkXnTxWfwvJq_fs4eilreuc05w1pPCj5g70kRta_rFIxI_tuHmZETl2r9/s200/New+Picture+%282%29.png
Pemberian ventilasi yang cukup pada ruangan dengan peraturan volumetric aliran udara. Dengan adanya ventilasi, maka udara panas diatas gedung dapat dialirkan kelingkungan luar sehingga dapat menyegarkan ruangan kembali.

9. Penyekat Panas Pada Lantai
Menurut Yeang, insolator panas yang baikpada kulit bangunan dapat mengurangi pertukaran panas yang terik dengan udara dingin yang berasal dari dalam bangunan. Karakterisitk thermal insulation adalh secara utama ditentukan oleh komposisinya. Denga lasan tersebut maka thermal insolation dibagi menjadi lima bagian utama, walaupun banyak insulator yang utama kerupakan turunan produk jenis – jenis ini. Penyekat panas pada lantai bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 19 berikut ini.
Lima jenis utama, adalah :
· Flake (serpihan)
· Fibrous (berserabut)
· Granular (butiran – butiran)
· Cellular (terdiri dari sel)
· Reflective (memantulkan)
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEi2DoZtshYrSUp7lsEl_t11iQgBH6AkrRqYOSU2TVOhzlOU8tmuH7P25TtlkeHfiLvKBTDnn4Xw1zLlEJ6p7uFPLOF6uQGZFV7Gtjqgg7mtgUJGJnwmxodcBj0L7mkfszxTp9hMnVpABI06/s200/New+Picture.png

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEifENQjHl1D8541jGkyyjW6ab-btPXhEurTJ3JQL4kVutgX_ECYvZ9qM-egmq2xepewTdErrpZw8jXGyYhZhh4gXOmV3fEDP1JiWkQGhF3tYeneFJHUaAZ_Rz_equS6-jz20aVEAa4bllyq/s200/New+Picture+%281%29.png


Struktur massa bangunan bekerja melepas panas pada siang hari dan melepas udara dingin pada siang hari. Pada iklim sejuk struktur bangunan dapat menyerap panas matahari sepanjang siang hari dan melepaskannya pada siang hari. Solar window atau solar-collector heat ditempatkan didepan fisik gedung untuk menyererap panas matahari.

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjsVAca-rq6Ajwdt2m1BkyhyViY2GvCdyPgCwEg7Fygu5a-gieGEpHjnf7cFADgHz2MMcBrdXGVUrfF09vP49iQetFImSeM4c3Obk1NsxSoUKQrqPK84QRpG1B54QAuIBHMt6zL-kS6wKUq/s200/New+Picture+%282%29.png











Sumber: ozhuarch-2806.blogspot.com/ arsitektur Bioklimatik
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhbfluaGetgK0sQarM9YoBs_VT1SJEyXc1Eukux-1xrEdwWhKY29hBeYhOWLksJwXwCbA58P3ZEsKPVPN7zdUGCZB-dRSUGppb1SIkWzBZMd2jyiZFj6OdeV_SrngrYuvW5_XOMfpraHdBD/s400/New+Picture+%282%29.png